yayasan aku dan sukarno, pancasila, nilai pancasila, nilai nilai pancasila, ideologi pancasila, pancasila sebagai ideologi negara, pancasila sebagai ideologi, pancasila sebagai ideologi terbuka, pancasila sebagai ideologi nasional, pancasila sebagai pandangan hidup, pancasila sebagai ideologi bangsa, pers dan pancasila, peran pers nilai pancasila,

Peran Pers Dalam Penanaman Nilai Pancasila

Forum Jurnalis Bekasi (Forjas) menggelar diskusi publik dengan tema “Peran Pers dalam Penanaman Nilai Pancasila” di Taman Kota, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jumat (28/10) malam.

Hadir sebagai pembicara Dhea Prakasa Yudha selaku pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan Meiniwan Halawa, Ketua Yayasan Aku dan Sukarno (YADS).

Diskusi yang dimulai sejak pukul 21.00 hingga 23.00 WIB tersebut dipandu langsung oleh Kusairi selaku Pimpinan Redaksi Indopetronews.com.

Dalam kesempatan tersebut, Meiniwan Halawa sebagai salah satu pembicara menyinggung posisi Pancasila di tengah-tengah generasi muda yang sudah mulai dilupakan.

Menurutnya, pemuda hari ini sudah mulai abai terhadap nilai-nilai Pancasila. Contoh paling update kata dia, pemuda banyak terpancing dalam konflik suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

“Pancasila mengajarkan persatuan, rasa saling menghargai. Jika pemuda terjebak dalam isu SARA, artinya pemuda lupa terhadap nilai-nilai Pancasila,” kata Meini.

Sementara Dhea Prakasa Yudha mengatakan, pers tidak bisa lepas dari Pancasila itu sendiri.

“Dalam pers terkandung nilai-nilai demokrasi, kebenaran, yang itu juga terkandung dalam Pancasila. Semua kembali kepada para pelaku media itu sendiri,” kata dia.

Yudha juga mengatakan, jurnalis bisa ikut berperan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila. Terlepas bahwa media hari ini lebih berorentasi kepada bisnis serta kepentingan pemilik modal.

“Mudah saja bagi rekan-rekan jurnalis. Selama kalian taat dengan kode etik jurnalistik tentu tidak akan susah kita menulis apapun. Karena kode etik memberikan kesemapatan, memberikan jaminan bagi kita sebagai jurnalis untuk menulis,” tandasnya.

Anggota DPRD Kota Bekasi, Haeri Parani yang kebetulan hadir dalam diskusi mengatakan, sebagai wakil rakyat dirinya menjadikan Pancasila sebagai acuan sekaligus timbangan bagi dia selaku wakil rakyat.

“Jadi prinsip yang saya pegang sebagai anggota dewan tentu Pancasila. Kita jadikan Pancasila sebagai tolok ukur dalam melihat dan mengkritisi sebuah kebijakan,” katanya.

Ketua Pemuda Demokrat Indonesia Kota Bekasi, King Vidor yang hadir sebagai undangan dalam diskusi tersebut mengatakan, Pancasila merupakan jati diri bangsa Indonesia yang ia bukan diciptakan Bung Karno tapi merupakan sebuah nilai-nilai yang digali dari buminya Indonesia.

“Jati diri kita ya Pancasila. Tapi sayang sebagai bangsa kita mulai lupa akan jati diri. Nah peran kita semua yang sadar untuk terus menggelorakan Pancasila di bumi Indonesia. Jangan sampai Pancasila benar-benar hilang dari masyarakat kita,” katanya.

Ketua Forum Jurnalis Bekasi, Syahrul Ramadhan mengatakan, tema Pancasila diambil sebab ia menyadari bahwa hari ini Pancasila kian terpinggirkan dan mulai dilupakan masyarakat.

Sementara pers sendiri memiliki kekuataan yang memungkinkan untuk andil dalam menanamkan nilai Pancasila.

“Inilah mengapa teman-teman jurnalis mendiskusikan Pancasila. Karena kita menyadari, bahwa kita punya tanggung jawab untuk ikut menanamkan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat melalui karya-karya kita,” pungkasnya.

Selain jurnalis, diskusi dihadiri sejumlah anggota komunitas di Bekasi dan sejumlah aktivis dari organisasi masyarakat, organisasi kepemudaan dan mahasiswa.(Ical)

Baca juga: Jepang, Aku Datang

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *