yayasan aku dan sukarno, pelatihan jurnalistik, proposal pelatihan jurnalistik, seminar jurnalistik, workshop jurnalistik, modul pelatihan jurnalistik, modul pelatihan jurnalistik, diklat jurnalistik, training jurnalistik, kursus fotografi,

Pelatihan Jurnalistik dan Menulis Yayasan Aku dan Sukarno

Yayasan Aku dan Sukarno (YADS) adalah salah satu wadah bagi anak-anak muda, khususya yang katanya mencintai tanah air dan ingin “Do something” untuk bangsa. Salah satu program dari YADS adalah menghidupkan diskusi yang sifatnya kajian dan mendalami ilmu-ilmu kebangsaaan yang telah lama diajarkan oleh Founding Father Bangsa seperti Sukarno.

Manariknya, thema yang diangkat oleh pengurus di diskusi perdana adalah “Pelatihan Jurnalistik dan Menulis” dengan subtheme “Pengembangan dan Implementasi Jurnalisme yang Independen dan Progresif”. Dengan tujuan melahirkan para penulis dasyat yang pernah dimiliki oleh Indonesia seperti Sukarno, Hatta, Tan malaka, Pramoedya dan masih banyak lagi yang tidak akan habis jika disebutkan satu persatu. Diskusi perdana tersebut dihadiri oleh 15 anak-anak muda dari berbagai kalangan ada dari VOX Muda Media, dari Mahasiswa-siswi Universitas Nasional dan dari GMNI Cabang Jakarta Selatan yang sangat antusias terlihat dari pertanyaan-pertanyaan kritis dalam diskusi. Pelatihan ini dikemas dalam bentuk diskusi interaktif dengan menghadirkan pembicara yang sangat sukarnois dan telah lama menjelajah dunia Jurnilistik juga telah melahirkan berbagai karya dalam bentuk buku dan media cetak lainnya Yakni Bung Roso Daras.

Pelatihan ini dibuka dengan penjelasan Platform YADS oleh Ketua Umum Sarinah Meiniwan Halawa dan dilanjutkan dengan pengisian materi oleh pembicara. Diskusi interaktif pun berlangsung hangat oleh Bung Roso nama sapaan pembicara mulai menjelaskan materi pelatihan dengan mengupas dari sejarah Pers Jurnalistik disertai dengan contoh para tokoh terkemuka dimasa nya disusul dengan menjelaskan isi materi yang kekinian. Saya tertarik mengutip pertanyaan dari Garda salah seorang perserta “Bagaimana menangani pemberitaan media tulis yang “diatur” oleh kepentingan “politik” dan minimnya sumber informasi sehingga terlihat dangkal isi dari pemberitaan tersebut jika kita bandingkan media cetak A dan B.? dengan detail dijelaskan oleh pemateri “inilah yang menjadi tugas kalian saat ini sebagai generasi penerus bangsa.! Namun pahami terlebih dulu bahwa menulis terbagi dari beberapa cabang ilmu salah satunya Jurnalistik dimana dalam menulis berita media online maupun cetak isi nya lebih kepada data yang actual kejadian fakta dan tidak disertai dengan opini penulis. Kemudian berbeda halnya jika kamu menulis artikel, narasi, cerpen dan bentuk lainnya isi dari tulisan ini lebih diperkaya oleh opini penulis, saya tidak menyalahkan zaman disaat kamu sekarang justru ini menjadi tantangan kalian mau dibentuk seperti apa namun ingat satu hal perbanyak lah membaca perbanyak referensi, berlatih dan berlatih.” Demikian saya kutip beberapa penjelasan roso daras.

Kemudian disusul oleh opini Tirja mahasiswi Ilmu Komunikasi memaparkan dengan sangat detail kemirisan yang dirasakan saat melihat reporter dan sajian televisi sekarang yang didominasi tidak mendidik moral anak bangsa justu lebih banyak gossip entertainment yang tidak penting. Selanjutnya saya mencoba mamaparkan bagaimana hangat nya diskusi saat itu yang tidak berhenti dari pertanyaan dan opini para peserta. Mulai dari pertanyaan bagaimana menentukan topic tulisan yang menarik, sistematika penulisan yang baik dan benar kemudian bagaimana supaya tulisan progresif dan lebih tajam serta keragaman opini kritis dari para peserta.

Kehangatan dan antusias peserta membuat saya selaku pengurus bersemangat dalam menentukan thema-thema diskusi, kajian selanjutnya yang akan disesuaikan dengan kebutuhan kekinian atau up to date. Bung Roso mengatakan dalam kesimpulannya bahwa: apapun bentuk tulisan yang akan kamu tekuni kedepan jangan pernah cepat puas berbanyak membaca dan berlatih karena itu adalah guru yang terus mengajarkan dan akan mempertajam setiap tulisan yang akan kamu tulis”. Selaras dari kesimpulan bung Roso saya teringat dengan kutipan Pramoedya Ananta Toer: orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam sejarah dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Saya meyakini betapa pentingnya untuk berlatih menulis dimana kita bisa menuangkan segenap pengetahuan dari berbagai sumber bacaan dan refensi lainnya, selain menjadi guru bagi pembaca juga bisa menjadi murid dari tulisan orang lain. Ilmu pengetahuan yang kita miliki jika tidak ditularkan kepada yang lain lambat atau cepat akan terkubur bahkan mati dengan sendirinya. Kami berharap dengan program-program YADS dapat membangun nation serta karakter insan generasi bangsa untuk tetap belajar, berjuang dan berkarya sebagai wujud cinta tanah-air.

-Sarinah Meini

Baca Juga: Hakikat Pemuda dalam Menyikapi Isu SARA di DKI Jakarta

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *