yayasan aku dan sukarno, kunjungan ke jepang, hubungan indonesia jepang, hubungan bilateral indonesia jepang, hubungan bilateral, kerjsama bilateral, kerjasama indonesia jepang, soekarno jepang,

Jepang, Aku Datang

Suatu hari, saya terlibat obrolan ringan di sebuah kedai roti bakar bersama Ari Nurcahyo, aktivis PARA Syndicate. Dalam riset yang dia kerjakan bersama timnya, tersaji fakta menarik. Ia menyebut dua contoh…. Pertama, atas pertanyaan kepada responden yang umumnya generasi muda, “siapa pahlawan idola kamu?” Jawaban “Sukarno” ada di urutan teratas, disusul pilihan kedua RA Kartini, ketiga Jenderal Sudirman, dan seterusnya. Kedua, pertanyaan kurang lebih, “negara maju mana yang sebaiknya ditiru Indonesia?” Jawaban teratas “Jepang”, baru negara-negara maju lain.

Nah, ini kebetulan soal Sukarno dan Jepang. Tanggal 1 – 5 November 2016 ini, saya mengikuti rombongan Puti Guntur Soekarno ke Negeri Sakura. Dus, ini pula yang menarik, mengaitkan hasil riset Ari dengan melihat langsung ke sana.

Puti Guntur dijadwalkan memberi pidato umum di Universitas Kokushikan, Tokyo pada hari Kamis, 3 November 2016. Teks pidato yang sudah ia siapkan, diberinya judul “Pancasila, Menuju Tata Dunia Baru”. Sontak saya teringat pidato kakeknya di PBB pada tanggal 30 September 1960 yang berjudul “To Build the World a New”.

Lebih menarik bagi saya, karena di Universitas Kokushikan, sudah hadir “Soekarno Research Center” Peresmian pusat kajian ini dilakukan di Asia Japan Research Center Universitas Kokushikan Tokyo, Rabu 22 Juli 2015. Pada kesempatan itu, Puti Guntur memberikan pidato kebudayaan berjudul “Pancasila Bintang Penuntun”. Hadir juga putra sulung Bung Karno, Guntur Soekarnoputra dan istri, Henny.

Menurut Profesor Shibata Tokubumi, Kepala Asia Japan Research Center, pembentukan kajian Sukarno ini dilatarbelakangi kondisi dunia saat ini yang dilanda berbagai konflik yang disebabkan berbagai perbedaan yang hendak dipaksakan. “Kepemimpinan Sukarno meninggalkan warisan sekaligus pelajaran bagi dunia berupa filosofi yang mengedepankan harmoni untuk menaklukkan perbedaan yang terkandung dalam semboyan negara Bhineka Tunggal Ika”.

Senada dengan Shibata, Rektor Universitas Kokushikan, Profesor Nobuyuki Miura mengingatkan kembali peran dan jasa Sukarno membangun kekuatan Asia untuk melawan hegemoni Barat. Antara lain melalui Konferensi Asia Afrika dan pesta olah raga negara-negara baru dalam Ganefo.

Jepang… aku datang. (roso daras)

Baca juga: Sewindu Dekat Bung Karno

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *